Minggu, 16 Januari 2022

Sewa Jas Medam

 Silahkan Chek IG @arumijasmedan 

Atau Hubungi No WA 081360867984

Atau langsung kinjungi gerai kami di 

Perumahan Gria Asam Kumbang Blok B 07 Medan










Sewa Jas Medan


 Silahkan Chek IG @arumijasmedan 

Atau Hubungi No WA 081360867984

Atau langsung kinjungi gerai kami di 

Perumahan Gria Asam Kumbang Blok B 07 Medan

Selasa, 06 Oktober 2015

KETIKA MAHASISWA BERTERIAK ATAS NAMA RAKYAT (Cerpen)


KETIKA MAHASISWA BERTERIAK ATAS NAMA RAKYAT
OLEH : DEDY RAHMAD SITINJAK

Langit kembali menunjukkan jingga nya  harapan masih dalam tahap perjuangan angin pun seolah tak mau berhembus lagi seperti biasa mengabarkan berita gembira tentang hasil perjuangan yang telah menemui titik ahir ini, semua sudah dilakukan untuk mengembalikan negeri ini kembali pada bentuk yang stabil, kebijakan para birokrat sepertinya masih kurang berpihak pada kaum marijinal, tidak semua yang tahu tentang kondisi sebenarnya negeri ini namun hanya sebahagian kelompok yang tahu dan sadar tentang kondisi keterpurukan negeri ini, tetapi tidak semua dari kelompok yang sadar tentang kondisi negeri ini berpikir untuk berusaha memperbaiki keadaan negeri ini.
Sore itu Ardiyansyah baru saja sampai di kampus Fakultas Ilmu Budaya (FIB) rambut gondrongnya lepek karna keringat yang membasahi nya setelah seharian berdiri dan berteriak di bundaran tengah kota bersama beberapa teman organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sedangkan beberapa teman yang lain memilih untuk kembali pulang kerumah dan ada juga yang ke kosan, wajahnya lusuh menggambarkan rasa letih yang ia lewati hari ini, ia meyeka keringat yang masi mengalir di keningnya hari ini dia tidak masuk kuliah lagi karna tadi siang ia lebih memilih untuk turun ke jalan melakukan demonstrasi dibanding masuk mata kuliah di kampus, sebenar nya ia merasa menyesal karna sudah bolos kuliah pada hari ini karna dalam bulan ini dia sudah bolos empat (4) hari namun ia menganggab perjuangan ini harus dilanjutkan dan harus dilakukan sebab ia merasa ketidak nyamanan yang dilakukan oleh wakil rakyat negeri ini terhadap kaum marjinal.
Kondisi kampus mulai sepi karna perkulihan sudah selesai sejak jam tiga sore tadi, namun Ardiyansyah baru saja sampai di kampus FIB, ia menuju kantin yang biasanya ia sering mengutang makanan, kantin itu akrab dengan nama kantin Mem pemilik kantin memang akrab di panggil Mem sehingga kantin itu di sebut kantin Mem. Mem merupakan wanita paru baya yang tidak mengutamakan keuntungan dalam hal berdagang, ia sagat dermawan walaupun dengan kehidupan sederhana yang ia jalani namun sepertinya tidak ada henti serta rasa letih yang melandanya untuk melakukan perbuatan baik dan membantu orang-orang di sekitarnya, Mem merupakan wanita berjiwa malaikat begitulah aggapan Mahasiswa FIB terhadap wanita parubaya itu sebab tidak sedikit mahasiswa yang telah ia bantu tidak sedikit pula mahasiswa yang berutang makanan di kantin itu apalagi pada saat ahir bulan namun Mem selalu ikhlas memberikan utang makanan kepada mahasiswa yang sudah kehabisan uang bulanan, walaupun dengan kondisi tersebut Mem tidak pernah mengalami kebangkrutan atas usaha yang di jalani nya bahkan rezekinya seolah terus mengalir tak henti, mungkin ini adalah keajaiban dari kebaikan dan keiklasan yang Mem lakukan kepada orang-orang yang ia bantu khusus nya mahasiswa FIB, tidak jarang pula mahasiswa berhutang uang kepada Mem untuk membayar uang perlengkapan kuliah dan justru jika Mem memiliki uang lebih maka ia akan membatu mahasiswa yang sedang membutuhkan uang tersebut, padahal jika di hitung keuntungan yang Mem dapatkan dari berjualan tidak lah seberapa karna makanan yang ia jualpun sangat murah harganya bahkan makanan yang paling murah di kota Medan, namun begitulah walupun harga makanan yang Mem jual di kantinnya harganya sangat murah dan walaupun banyak mahasiswa yang berutang di kantin itu namun sepertinya kantin itu tidak ada bangkrut-bangkrut nya itu semua karna kebaikan dan keihklasan yang telah Mem berikan kepada orang-orang di sekitarnya.
Ardiyansyah duduk di sala-satu kursi kantin itu di ikuti oleh beberapa teman organisasi HMI nya mereka ada tujuh orang sala-satu dari mereka memesan makanan dan minuman di kantin Mem itu, setelah pesanan datang Ardiyansyah dan teman temannya melahap makanannya dengan cepat sepertinya mereka memang sudah lapar setelah seharian melakukan orasi di bundaran tengah kota Medan. Ardiyansyah sadar bahwa sebenarnya apa yang telah ia lakukan selama ini merupakan hal yang benar dan merupakan tanggung jawab moralnya sebagai mahasiwa terhadap rakyat di Negara ini.
Ardiyansyah merasa kasihan terhadap kondisi rakyat di Negara ini, tetapi di lain sisi ia juga merasa lebih kasihan melihat mahasiswa dan peran mahasiswa belakangan ini, bukankah mahasiswa merupakan Agen of change (Agen Perubahan), Agen of social control (Agen Pengontrol Sosial) dimana tanggung jawab mahasiswa yang lain terhadap rakyat di negeri ini, tidak jarang mahasiswa dengan bangga nya menunjukkan identitas dirinya sebagai mahasiswa tanpa tahu sebenarnya tanggung jawab moral yang amat besar yang sedang ia emban, Ardiyansyah termenung dan menggrutu dalam hatinya tentang kondisi kekinian negara ini dan khusus nya kondisi kekinian mahasiswa di negeri ini.
“Diyan, kau kok kok termenung, ke mushollah yuk, udah adzan tuh” sala-satu sahabatnya menegur Ardiyansyah dari lamunan nya.
“eh iya, yuk kita shalat dulu, sebab perjuangan tanpa doa sama saja dengan sombong, sedangkan doa tanpa perjuangan sama saja dengan omong kosong” Ardiyansah pun mengeluarkan beberapa rupiah uang dari sakunya begitu juga seluruh teman nya dan kemudian membayar makanan yang mereka makan tadi.
Ardiyansyah dan temannya pergi menuju mushollah untuk menunaikan tiga rakaat shalat wajib.
***
“Bangsat, satu bocah ini saja kalian tidak bisa urus”
“Kami kesulitan bernegosiasi padanya Pak, kami sudah menawarkan apa yang bapak pesankan tetapi dia menolak, dia berkata lebih baik mati daripada menerima uang dari kita”
“Lalu apa yang dia inginkan ?”
“Dia menginginkan tuntutannya dikabulkan”
“Itu mustahil untuk kita lakukan, itu sama saja merugikan saya, coba kalian cari tau dia orang mana, dan siapa orang tua nya ?”
“Owh.. ini pak kami sudah mengumpulkan data semua tentang dia, dia bernama Muhammad Ardiyansyah kuliah di Fakultas Ilmu Budaya jurusan Sejarah, menurut info yang kami himpun ia adalah mahasiswa organisasi Himpunan Mahasiswa Islam di Fakultas Ilmu Budaya dan biasanya organisasi memiliki senior atau alumni yang punya pengaruh yang mungkin bisa mempengaruhi si Ardiyansyah ini”
Faiz Siregar sepertinya sudah mulai goyah dan merasa cemas atas apa yang telah Ardiyansyah lakukan beberapa hari belakangan ini di bundaran tengah kota, Ardiyansyah dan teman-teman nya sudah melakukan aksi demonstrasi penolakan tentang kebijakan pemerintah yang lebih condong kepada pengusaha selama empat hari (4) semakin hari semakin banyak massa aksi yang ikut berhimpun mendukung Ardiyansyah dalam hal memperjuangkan nasib rakyat.
Sebagai pengusaha Faiz Siregar sudah mengeluarkan dana yang fantastis untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah kota untuk menggusur rumah masyarakat namun semua terkendala karna aksi yang di lakukan oleh Ardiyansyah dan para sahabatnya. Ardiyansyah kini sudah di kenali oleh masyarakat kota  karna wajahnya sering tampak pada media cetak akibat ulah aksi demo yang telah ia lakukan beberapa hari belakan ini.
Faiz Siregar semakin gerah dengan kondisi ini dan berusaha melakukan pembusukan kepada Ardiyansah, setelah melakukan penyelidikan ahirnya Faiz Siregar sudah tahu bagaimana memusnakan pria yang bernama lengkap Muhammad Ardiyansyah ini.
***
Niat suci yang dilakukan oleh Ardiyansyah dengan teman temannya merupakan murni adalah perjuangan untuk rakyat tanpa ada sedikit kepentingan pribadi sedikit pun, pagi itu Ardiyansyah masih dalam konsdisi semangat dalam memperjuangkan hak rakyat tetapi para sahabatnya sudah mulai putus asa dengan perjuangan yang telah mereka lakukan selama ini, melihat teman teman nya sudah mulai tidak semangat Ardiyansyah menjadi berkecil hati, ia berteriak dalam hati, ia menggerutu atas sifat kawan kawan nya. Pagi itu mereka sudah berkumpul di kampus FIB namun masih betah duduk di koridor gedung kampus yang sudah banyak mencetak para sastrawan itu.
“Apalagi yang kalian tunggu, ayolah sekarang kita turun ke jalan, rakyat membutuhkan kita, harapan mereka adalah tanggung jawab kita”
“Sudahlah Diyan, aku sudah merasa jenuh dengan semua ini, sudah banyak teman kita yang terluka karna berhadapan langsung dengan polisi huru-hara” ucap Hamdan memberikan penjelasan mengapa teman teman sudah mulai tidak semangt dalam garis perjuangan yang telah mereka lakukan beberapa hari ini.
“Apa ? Maksud kalian perjuangan kita sampai di sini saja ? setelah apa yang telah kita lakukan, kini kalian tidak semangat lagi ? kalian tidak kasihan pada rakyat yang akan di gusur rumahnya oleh pengusaha bangsat itu ? kalian tidak berpikir akan banyak manusia yang kehilanagn tempat tinggal dan menjadi pengemis di pinggir jalan ? harus nya kalian berpikir bahwa tanggung jawab kita sebagai mahasiswa sangat besar, mereka para rakyat itu tidak menginginkan uang dari kita, namun mereka butuh kita karna kita yang tahu tentang masalah yang menimpa mereka dan kita yang tahu apa mestinya harus kita lakukan, untuk memperjuangkan mereka” mendengar ucapan Ardiyansyah semangat teman temannya kembali terbakar namun namun Hamdan memutuskan untuk tidak ikut lagi dalam aksi turun kejalan bersama Ardiyansyah dan teman teman nya.
Ternyata Hamdan sudah tidak semangat lagi dalam memperjuangkan rakyat dan bahkan menganjurkan agar menghentikan perjuangan, sudah hampir dua minggu Ardiyansyah dan beberapa elemen masyarakat yang lain melakukan aksi turun kejalan melakukan aksi demonstrasi menuntut pemerintahan tentang penggusuran wilayah pemukiman masyarakat, Ardiyansyah sadar bahwa sebagai mahasiswa sudah selayaknya mempertanggung jawabkan gelar yang selama ini melekat pada mahasiwa yaitu agen of change atau agen of social control sebab mahasiswa tidak memiliki tendensi peribadi, mereka tidak butuh uang yang mereka butuhkan adalah kesempatan untuk merealisasikan ide pemikiran serta kebenaran yang mereka pelajari selama ini di perguruan tinggi, berjuang di saat mahasiswa memang sangat nikmat dan indah jika itu murni perjuangan untuk rakyat, bahkan ada istilah “perjuangan itu lebih nikmat daripada bersetubuh”  mungkin istilah itu ada karena kenikmatan dan kepuasan batin yang kuta dapatkan saat menegakkan kebenaran yang sesungguhnya, mahasiswa merupakan lapisan masyarakat yang dianggap netral dalam memperjuangkan hak rakyat namun disela-sela perjuangan yang selama ini Ardiyansyah lakukan ternyata banyak para senior atau alumni berusaha mempengaruhi mahasiswa dan ini yang cenderung merusak independensi kesucian dari sebuah perjuangan yang di lakukan oleh mahasiswa.
Ketika ada beberapa senior atau alumni mempengaruhi perjuangan yang di lakukan oleh mahasiswa tidak jarang beberapa golongan mahasiswa menjadi baling dari garis perjuangan yang selama ini seharusnya mereka junjung tinggi, nama mahasiswa menjadi tercoreng karna iming-iming yang di tawarkan oleh senior juga alumni yang memiliki kepentingan pribadi, tidak jarang alumni yang sekarang memiliki jabatan di sebuah lembaga tega memanfaatkan adik-adik mahasiwanya sebagai tameng untuk menyalurkan apa yang ia inginkan ini merupakan hal yang sangat memalukan, tidak jarang pula demostrasi mahasiswa bayaran sering terjadi yang di dalangi oleh alumni yang tidak bertanggung jawab dan tidak bermoral, sebenarnya   terjadi di beberapa daerah yang ada di negeri ini dan justru ini yang menodai perjuangan suci mahasiswa sebagan Agen of change dan agen of social control, ini yang sering membuat hati Ardiyansyah gusar, ia takut jika kelak nanti ternyata apa yang telah ia lakukan dengan teman temannya selama ini ternyata ternoda karna segelintir orang yang memiliki kepentingan pribadi.
Kini perjuangan yang telah Ardiyansyah lakukan dengan teman teman nya di bawah bendera Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sudah hampir di penghujung perjuangan, beberapa pejabat daerah juga ikut turun tangan satu suara dengan perjuangan apa yang di yakini oleh Ardiyansyah dan teman teman nya selama ini. Awalnya Ardiansyah merasa curiga dengan beberapa pejabat daerah yang tiba tiba ikud mendukung garis perjuangan yang telah Ardiyansyah lakukan selama ini dengan teman temannya karna Ardiansyah berpikir para pejabat yang ikut serta mendukung aksinya ini adalah ajang cari muka dan cari sensasi namun Ardiyansyah selaku kordinator aksi berusaha berfikir positif dan membuang jauh jauh rasa curiga yang sempat hinggap dibenak nya, ia tidak menyangka ternyata dukungan atas perjungan yang mereka yakini selama ini semakin banyak dan semakin luas sehingga ia merasa puas atas apa yang telah mereka ia perjuangkan selama ini.
 Setelah melakukan aksi turun ke jalan hampir tiga minggu ahirnya pemerintah daerah mengambil langkah untuk merevisi peraturan yang pro kepada pengusaha namun Faiz Siregar sebagai pengusaha di kota ini tidak mau berhenti dan membawa kasus tersebut ke Ranah hukum, sore nanti pengadilan akan memutuskan keputusan Final tentang kasus yang sedang di perjuangkan oleh Ardiyansah dan teman temannya, namun siang ini ternyata masa aksi yang di kordinatori oleh Ardiyansah pecah dan rusuh banyak yang terluka dan masuk rumah sakit, terik mentanari menyengat kulit para demosntran namun para polisi huru hara dengan semangat memukul mundur para demonstran. Selama ini aksi demo yang di lakukan oleh Ardiansyah merupakan aksi damai namun ternyata dalam aksi demo tersebut ada penyusup yang sengaja membuat massa aksi pecah dan menjadi rusuh.
Banyak massa aksi yang di tangkap polisi sala satunya adalah Ardiyansyah, setelah satu malam di periksa di kantor polisi ahirnya Ardiyansyah dan beberapa temannya yang lain dilepaskan, namun ada yang aneh dalam pemeriksaan di kantor polisi itu semalam ternyata penangkapan yang dilakukan oleh polisi pada massa aksi demonstran yang pecah dan rusuh semalam telah berhasil menagkap hamdan dalam kerusuhan yang terjadi semalam, bukankah Hamdan sudah menarik diri untuk tidak ikut dalam garis perjuangan yang di yakini oleh Ardiyansyah dan teman teman nya, ternyata Hamdan memang sengaja menyusup dan membuat rusu atas suruhan pengusaha Faiz Siregar karna hamdan sudah buta atas uang yang di tawarkan Faiz Siregar.
Setelah pengadilan memutuskan bahwa kasus perkara di menangkan oleh rakyat dan setelah mengkaji kasus tersebut ternyata Faiz Siregar selaku pengusaha tersohor di kota ini terbukti telah membuat pemalsuan surat tentang kepemilikan tanah yang hampir di gusur kemarin, ternyata Faiz Siregar tidak sendiri melakukan aksinya sala satu pejabat teras di kota ini juga ikut terseret dalam pemalsuan surat kepemilikan tanah itu dan kini pengadilan sedang melakukan penyelidikan untuk mengadilan pengusaha Faiz Siregar beserta antek anteknya.
Tidak ada perjuangan yang sia-sia yakinlah penindas pasti binasa jika rakyat bersatu, jika mahasiswa satu suara dan jika yakin usaha sampai optimis demi niatan suci untuk memperjuangkan hak rakyat tidak ada kata untuk mundur terus berjuang sebab perjuangan itu lebih nikmat dari pada bersetubuh.
Kini Ardiyansyah kembali aktif berkuliah seperti biasa dan ia merasa puas atas apa yang telah ia capai dalam memperjuangkan hak rakyat. Ia berharap kelak mahasiswa rece seperti si Hamdan tidak ada lagi di negeri ini, sebab citra mahasiswa rusak karna buta terhadap rece atau nominal yang di tawarkan oleh pihak yang berkepentingan.    
                                                                   PADANG BULAN 02 SEPTEMBER 2015

 

Teriakan mu (Puisi)


Teriakan mu
Oleh : Dedy Rahmad Sitinjak
Kalau berteriak di jalan
Orang gila juga berani berteriak di jalan
Kalau berteriak di jalan
Bahkan anjing juga tidak segan menggonggong di tengah jalan
Teriakan mu memang lambang perlawanan
Teriakan mu memang jeritan ketertindasan
Teriakan mu memang ungkapan kebencian
Kebencian rakyat terhadap orang yang berteriak itu
Sebab kini
Teriakan hanyalah omong kosong
Teriakan hanya membuat macet di jalan
Teriakan hanya menambah susah masyarakat
Sedangkan yang di teriyaki
Duduk manis bersandiwara di kursi goyang nya
 Teriakan mu membuatnya tersenyum
Teriakan mu membuatnya sedikit cemas
Terikanan mu membuatnya tidak tidur nyenyak
Namun sampai kapan kau akan berteriak ?
            Memberikan wacan, Menberikan solusi, Memberikan mimpi
Sudahlah sebaiknya kamu bungkam saja teman
Jagan berteriak lagi mari kita berkarya
Mari kita belajar dan bekerja keras
Agar mimpimu terwujut
Dan ketika mimpimu terwujut
Maka kau akan  tersenyum saat melihat orang meneriaki mu
Dan berkata
Dulu aku juga pernah berteriak seperti mu
                                                                                    Padang Bulan Rabu, 02 September 2015

Mahasiswa Rece (Puisi)


Mahasiswa Rece
Oleh : Dedy Rahmad Sitinjak
Aku adalah barisan masyarakat yang katanya paling sadar
Aku adalah barisan masyarakat yang katanya di harapkan memberikan perubahan
Aku adalah barisan masyarakat yang katanya berpendidikan
Rakyat menganggap ku serba bisa
Rakyat menganggap ku sebagai harapan baru
Dan aku merasa jumawa ha ha ha ha………..
Aku merasa seperti mentari yang memberikan kesejukan kepada bumi
Karna aku tidak takut di PHK dan tidak takut pula kekurangan biaya
Bahkan aku tidak takut sekalipun presiden turun tahta karna ku
Keyakinan dan kepercayaan rakyat harus nya menjadi beban moral bagiku
Aku tidak butuh biaya besar, yang kubutuhkan hanya semangat juang dan kepekaan
Namun aku buta karna rece
Dan kini harus ku akui
Barisan kami adalah robot
Barisan kami adalah alat pemuas
Barisan kami adalah mesin
Barisan kami adalah barisan rece
Karna kami berani bungkam demi rece
karna kami adalah barisan yang harapan hanya sebagai judul
karna  anarkis lebih melekat pada tindakan barisan kami
Kini ibu pertiwi menangis, merintih, menjerit
Karna harapan dan tanggung jawab yang di tumpukan pada kami
Kami lepaskan begitu saja tanpa memikirkan kodrat ku sebagai mahasiswa
Sebab kami barisan rece
                                                                                    Batang toru Jumat, 28 Agustus 2015