KETIKA
MAHASISWA BERTERIAK ATAS NAMA RAKYAT
OLEH :
DEDY RAHMAD SITINJAK
Langit kembali menunjukkan jingga nya harapan masih dalam tahap perjuangan angin pun
seolah tak mau berhembus lagi seperti biasa mengabarkan berita gembira tentang
hasil perjuangan yang telah menemui titik ahir ini, semua sudah dilakukan untuk
mengembalikan negeri ini kembali pada bentuk yang stabil, kebijakan para
birokrat sepertinya masih kurang berpihak pada kaum marijinal, tidak semua yang
tahu tentang kondisi sebenarnya negeri ini namun hanya sebahagian kelompok yang
tahu dan sadar tentang kondisi keterpurukan negeri ini, tetapi tidak semua dari
kelompok yang sadar tentang kondisi negeri ini berpikir untuk berusaha
memperbaiki keadaan negeri ini.
Sore itu Ardiyansyah baru saja sampai
di kampus Fakultas Ilmu Budaya (FIB) rambut gondrongnya lepek karna keringat yang
membasahi nya setelah seharian berdiri dan berteriak di bundaran tengah kota
bersama beberapa teman organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sedangkan beberapa
teman yang lain memilih untuk kembali pulang kerumah dan ada juga yang ke kosan,
wajahnya lusuh menggambarkan rasa letih yang ia lewati hari ini, ia meyeka
keringat yang masi mengalir di keningnya hari ini dia tidak masuk kuliah lagi
karna tadi siang ia lebih memilih untuk turun ke jalan melakukan demonstrasi
dibanding masuk mata kuliah di kampus, sebenar nya ia merasa menyesal karna
sudah bolos kuliah pada hari ini karna dalam bulan ini dia sudah bolos empat
(4) hari namun ia menganggab perjuangan ini harus dilanjutkan dan harus
dilakukan sebab ia merasa ketidak nyamanan yang dilakukan oleh wakil rakyat negeri
ini terhadap kaum marjinal.
Kondisi kampus mulai sepi karna
perkulihan sudah selesai sejak jam tiga sore tadi, namun Ardiyansyah baru saja
sampai di kampus FIB, ia menuju kantin yang biasanya ia sering mengutang
makanan, kantin itu akrab dengan nama kantin Mem pemilik kantin memang akrab di
panggil Mem sehingga kantin itu di sebut kantin Mem. Mem merupakan wanita paru
baya yang tidak mengutamakan keuntungan dalam hal berdagang, ia sagat dermawan
walaupun dengan kehidupan sederhana yang ia jalani namun sepertinya tidak ada
henti serta rasa letih yang melandanya untuk melakukan perbuatan baik dan
membantu orang-orang di sekitarnya, Mem merupakan wanita berjiwa malaikat
begitulah aggapan Mahasiswa FIB terhadap wanita parubaya itu sebab tidak
sedikit mahasiswa yang telah ia bantu tidak sedikit pula mahasiswa yang
berutang makanan di kantin itu apalagi pada saat ahir bulan namun Mem selalu
ikhlas memberikan utang makanan kepada mahasiswa yang sudah kehabisan uang
bulanan, walaupun dengan kondisi tersebut Mem tidak pernah mengalami
kebangkrutan atas usaha yang di jalani nya bahkan rezekinya seolah terus
mengalir tak henti, mungkin ini adalah keajaiban dari kebaikan dan keiklasan yang
Mem lakukan kepada orang-orang yang ia bantu khusus nya mahasiswa FIB, tidak
jarang pula mahasiswa berhutang uang kepada Mem untuk membayar uang
perlengkapan kuliah dan justru jika Mem memiliki uang lebih maka ia akan
membatu mahasiswa yang sedang membutuhkan uang tersebut, padahal jika di hitung
keuntungan yang Mem dapatkan dari berjualan tidak lah seberapa karna makanan
yang ia jualpun sangat murah harganya bahkan makanan yang paling murah di kota
Medan, namun begitulah walupun harga makanan yang Mem jual di kantinnya
harganya sangat murah dan walaupun banyak mahasiswa yang berutang di kantin itu
namun sepertinya kantin itu tidak ada bangkrut-bangkrut nya itu semua karna
kebaikan dan keihklasan yang telah Mem berikan kepada orang-orang di
sekitarnya.
Ardiyansyah duduk di sala-satu kursi
kantin itu di ikuti oleh beberapa teman organisasi HMI nya mereka ada tujuh
orang sala-satu dari mereka memesan makanan dan minuman di kantin Mem itu,
setelah pesanan datang Ardiyansyah dan teman temannya melahap makanannya dengan
cepat sepertinya mereka memang sudah lapar setelah seharian melakukan orasi di
bundaran tengah kota Medan. Ardiyansyah sadar bahwa sebenarnya apa yang telah
ia lakukan selama ini merupakan hal yang benar dan merupakan tanggung jawab
moralnya sebagai mahasiwa terhadap rakyat di Negara ini.
Ardiyansyah merasa kasihan terhadap
kondisi rakyat di Negara ini, tetapi di lain sisi ia juga merasa lebih kasihan
melihat mahasiswa dan peran mahasiswa belakangan ini, bukankah mahasiswa
merupakan Agen of change (Agen
Perubahan), Agen of social control (Agen
Pengontrol Sosial) dimana tanggung
jawab mahasiswa yang lain terhadap rakyat di negeri ini, tidak jarang mahasiswa
dengan bangga nya menunjukkan identitas dirinya sebagai mahasiswa tanpa tahu
sebenarnya tanggung jawab moral yang amat besar yang sedang ia emban,
Ardiyansyah termenung dan menggrutu dalam hatinya tentang kondisi kekinian negara
ini dan khusus nya kondisi kekinian mahasiswa di negeri ini.
“Diyan, kau kok kok termenung, ke
mushollah yuk, udah adzan tuh” sala-satu sahabatnya menegur Ardiyansyah dari
lamunan nya.
“eh iya, yuk kita shalat dulu, sebab
perjuangan tanpa doa sama saja dengan sombong, sedangkan doa tanpa perjuangan
sama saja dengan omong kosong” Ardiyansah pun mengeluarkan beberapa rupiah uang
dari sakunya begitu juga seluruh teman nya dan kemudian membayar makanan yang
mereka makan tadi.
Ardiyansyah dan temannya pergi menuju
mushollah untuk menunaikan tiga rakaat shalat wajib.
***
“Bangsat, satu bocah ini saja kalian
tidak bisa urus”
“Kami kesulitan bernegosiasi padanya Pak,
kami sudah menawarkan apa yang bapak pesankan tetapi dia menolak, dia berkata
lebih baik mati daripada menerima uang dari kita”
“Lalu apa yang dia inginkan ?”
“Dia menginginkan tuntutannya
dikabulkan”
“Itu mustahil untuk kita lakukan, itu
sama saja merugikan saya, coba kalian cari tau dia orang mana, dan siapa orang
tua nya ?”
“Owh.. ini pak kami sudah mengumpulkan
data semua tentang dia, dia bernama Muhammad Ardiyansyah kuliah di Fakultas
Ilmu Budaya jurusan Sejarah, menurut info yang kami himpun ia adalah mahasiswa
organisasi Himpunan Mahasiswa Islam di Fakultas Ilmu Budaya dan biasanya
organisasi memiliki senior atau alumni yang punya pengaruh yang mungkin bisa
mempengaruhi si Ardiyansyah ini”
Faiz Siregar sepertinya sudah mulai
goyah dan merasa cemas atas apa yang telah Ardiyansyah lakukan beberapa hari
belakangan ini di bundaran tengah kota, Ardiyansyah dan teman-teman nya sudah
melakukan aksi demonstrasi penolakan tentang kebijakan pemerintah yang lebih
condong kepada pengusaha selama empat hari (4) semakin hari semakin banyak
massa aksi yang ikut berhimpun mendukung Ardiyansyah dalam hal memperjuangkan
nasib rakyat.
Sebagai pengusaha Faiz Siregar sudah
mengeluarkan dana yang fantastis untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah kota
untuk menggusur rumah masyarakat namun semua terkendala karna aksi yang di
lakukan oleh Ardiyansyah dan para sahabatnya. Ardiyansyah kini sudah di kenali
oleh masyarakat kota karna wajahnya
sering tampak pada media cetak akibat ulah aksi demo yang telah ia lakukan
beberapa hari belakan ini.
Faiz Siregar semakin gerah dengan
kondisi ini dan berusaha melakukan pembusukan kepada Ardiyansah, setelah
melakukan penyelidikan ahirnya Faiz Siregar sudah tahu bagaimana memusnakan
pria yang bernama lengkap Muhammad Ardiyansyah ini.
***
Niat suci yang dilakukan oleh Ardiyansyah
dengan teman temannya merupakan murni adalah perjuangan untuk rakyat tanpa ada
sedikit kepentingan pribadi sedikit pun, pagi itu Ardiyansyah masih dalam
konsdisi semangat dalam memperjuangkan hak rakyat tetapi para sahabatnya sudah
mulai putus asa dengan perjuangan yang telah mereka lakukan selama ini, melihat
teman teman nya sudah mulai tidak semangat Ardiyansyah menjadi berkecil hati,
ia berteriak dalam hati, ia menggerutu atas sifat kawan kawan nya. Pagi itu
mereka sudah berkumpul di kampus FIB namun masih betah duduk di koridor gedung
kampus yang sudah banyak mencetak para sastrawan itu.
“Apalagi yang kalian tunggu, ayolah
sekarang kita turun ke jalan, rakyat membutuhkan kita, harapan mereka adalah
tanggung jawab kita”
“Sudahlah Diyan, aku sudah merasa jenuh
dengan semua ini, sudah banyak teman kita yang terluka karna berhadapan
langsung dengan polisi huru-hara” ucap Hamdan memberikan penjelasan mengapa
teman teman sudah mulai tidak semangt dalam garis perjuangan yang telah mereka
lakukan beberapa hari ini.
“Apa ? Maksud kalian perjuangan kita
sampai di sini saja ? setelah apa yang telah kita lakukan, kini kalian tidak
semangat lagi ? kalian tidak kasihan pada rakyat yang akan di gusur rumahnya
oleh pengusaha bangsat itu ? kalian tidak berpikir akan banyak manusia yang
kehilanagn tempat tinggal dan menjadi pengemis di pinggir jalan ? harus nya
kalian berpikir bahwa tanggung jawab kita sebagai mahasiswa sangat besar,
mereka para rakyat itu tidak menginginkan uang dari kita, namun mereka butuh
kita karna kita yang tahu tentang masalah yang menimpa mereka dan kita yang
tahu apa mestinya harus kita lakukan, untuk memperjuangkan mereka” mendengar
ucapan Ardiyansyah semangat teman temannya kembali terbakar namun namun Hamdan
memutuskan untuk tidak ikut lagi dalam aksi turun kejalan bersama Ardiyansyah
dan teman teman nya.
Ternyata Hamdan sudah tidak semangat lagi
dalam memperjuangkan rakyat dan bahkan menganjurkan agar menghentikan
perjuangan, sudah hampir dua minggu Ardiyansyah dan beberapa elemen masyarakat
yang lain melakukan aksi turun
kejalan melakukan aksi demonstrasi
menuntut pemerintahan tentang penggusuran wilayah pemukiman masyarakat,
Ardiyansyah sadar bahwa sebagai mahasiswa sudah selayaknya mempertanggung
jawabkan gelar yang selama ini melekat pada mahasiwa yaitu agen of change atau agen of
social control sebab mahasiswa tidak memiliki tendensi peribadi, mereka
tidak butuh uang yang mereka butuhkan adalah kesempatan untuk merealisasikan
ide pemikiran serta kebenaran yang mereka pelajari selama ini di perguruan
tinggi, berjuang di saat mahasiswa memang sangat nikmat dan indah jika itu
murni perjuangan untuk rakyat, bahkan ada istilah “perjuangan itu lebih nikmat daripada bersetubuh” mungkin istilah itu ada karena kenikmatan dan
kepuasan batin yang kuta dapatkan saat menegakkan kebenaran yang sesungguhnya, mahasiswa
merupakan lapisan masyarakat yang dianggap netral dalam memperjuangkan hak
rakyat namun disela-sela perjuangan yang selama ini Ardiyansyah lakukan
ternyata banyak para senior atau alumni berusaha mempengaruhi mahasiswa dan ini
yang cenderung merusak independensi kesucian dari sebuah perjuangan yang di
lakukan oleh mahasiswa.
Ketika ada beberapa senior atau alumni
mempengaruhi perjuangan yang di lakukan oleh mahasiswa tidak jarang beberapa golongan
mahasiswa menjadi baling dari garis perjuangan yang selama ini seharusnya
mereka junjung tinggi, nama mahasiswa menjadi tercoreng karna iming-iming yang
di tawarkan oleh senior juga alumni yang memiliki kepentingan pribadi, tidak
jarang alumni yang sekarang memiliki jabatan di sebuah lembaga tega
memanfaatkan adik-adik mahasiwanya sebagai tameng untuk menyalurkan apa yang ia
inginkan ini merupakan hal yang sangat memalukan, tidak jarang pula demostrasi mahasiswa
bayaran sering terjadi yang di dalangi oleh alumni yang tidak bertanggung jawab
dan tidak bermoral, sebenarnya terjadi di beberapa daerah yang ada di negeri
ini dan justru ini yang menodai perjuangan suci mahasiswa sebagan Agen of change dan agen of social control,
ini yang sering membuat hati Ardiyansyah gusar, ia takut jika kelak nanti
ternyata apa yang telah ia lakukan dengan teman temannya selama ini ternyata
ternoda karna segelintir orang yang memiliki kepentingan pribadi.
Kini perjuangan yang telah Ardiyansyah
lakukan dengan teman teman nya di bawah bendera Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sudah
hampir di penghujung perjuangan, beberapa pejabat daerah juga ikut turun tangan
satu suara dengan perjuangan apa yang di yakini oleh Ardiyansyah dan teman
teman nya selama ini. Awalnya Ardiansyah merasa curiga dengan beberapa pejabat
daerah yang tiba tiba ikud mendukung garis perjuangan yang telah Ardiyansyah
lakukan selama ini dengan teman temannya karna Ardiansyah berpikir para pejabat
yang ikut serta mendukung aksinya ini adalah ajang cari muka dan cari sensasi
namun Ardiyansyah selaku kordinator aksi berusaha berfikir positif dan membuang
jauh jauh rasa curiga yang sempat hinggap dibenak nya, ia tidak menyangka
ternyata dukungan atas perjungan yang mereka yakini selama ini semakin banyak
dan semakin luas sehingga ia merasa puas atas apa yang telah mereka ia
perjuangkan selama ini.
Setelah
melakukan aksi turun ke jalan hampir tiga minggu ahirnya pemerintah daerah
mengambil langkah untuk merevisi peraturan yang pro kepada pengusaha namun Faiz
Siregar sebagai pengusaha di kota ini tidak mau berhenti dan membawa kasus
tersebut ke Ranah hukum, sore nanti pengadilan akan memutuskan keputusan Final
tentang kasus yang sedang di perjuangkan oleh Ardiyansah dan teman temannya, namun
siang ini ternyata masa aksi yang di kordinatori oleh Ardiyansah pecah dan
rusuh banyak yang terluka dan masuk rumah sakit, terik mentanari menyengat
kulit para demosntran namun para polisi huru hara dengan semangat memukul
mundur para demonstran. Selama ini aksi demo yang di lakukan oleh Ardiansyah
merupakan aksi damai namun ternyata dalam aksi demo tersebut ada penyusup yang
sengaja membuat massa aksi pecah dan menjadi rusuh.
Banyak massa aksi yang di tangkap
polisi sala satunya adalah Ardiyansyah, setelah satu malam di periksa di kantor
polisi ahirnya Ardiyansyah dan beberapa temannya yang lain dilepaskan, namun
ada yang aneh dalam pemeriksaan di kantor polisi itu semalam ternyata
penangkapan yang dilakukan oleh polisi pada massa aksi demonstran yang pecah
dan rusuh semalam telah berhasil menagkap hamdan dalam kerusuhan yang terjadi
semalam, bukankah Hamdan sudah menarik diri untuk tidak ikut dalam garis
perjuangan yang di yakini oleh Ardiyansyah dan teman teman nya, ternyata Hamdan
memang sengaja menyusup dan membuat rusu atas suruhan pengusaha Faiz Siregar
karna hamdan sudah buta atas uang yang di tawarkan Faiz Siregar.
Setelah pengadilan memutuskan bahwa
kasus perkara di menangkan oleh rakyat dan setelah mengkaji kasus tersebut
ternyata Faiz Siregar selaku pengusaha tersohor di kota ini terbukti telah
membuat pemalsuan surat tentang kepemilikan tanah yang hampir di gusur kemarin,
ternyata Faiz Siregar tidak sendiri melakukan aksinya sala satu pejabat teras
di kota ini juga ikut terseret dalam pemalsuan surat kepemilikan tanah itu dan
kini pengadilan sedang melakukan penyelidikan untuk mengadilan pengusaha Faiz
Siregar beserta antek anteknya.
Tidak ada perjuangan yang sia-sia
yakinlah penindas pasti binasa jika rakyat bersatu, jika mahasiswa satu suara
dan jika yakin usaha sampai optimis demi niatan suci untuk memperjuangkan hak
rakyat tidak ada kata untuk mundur terus berjuang sebab perjuangan itu lebih
nikmat dari pada bersetubuh.
Kini Ardiyansyah kembali aktif
berkuliah seperti biasa dan ia merasa puas atas apa yang telah ia capai dalam
memperjuangkan hak rakyat. Ia berharap kelak mahasiswa rece seperti si Hamdan
tidak ada lagi di negeri ini, sebab citra mahasiswa rusak karna buta terhadap
rece atau nominal yang di tawarkan oleh pihak yang berkepentingan.
PADANG
BULAN 02 SEPTEMBER 2015